[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Baca Artikel”]
KeuanganNegara.id -Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengkaji kembali kemungkinan penurunan jumlah saham dalam hitungan satu lot dari perhitungan saat ini sebanyak 100 saham.
Direktur Perdagangan dan Anggota Bursa BEI Laksono Widodo tidak menampik adanya rencana tersebut. Hanya saja Laksono mengatakan, kebijakan tersebut masih belum diterapkan saat ini atau dalam waktu dekat. Pasalnya, Bursa masih fokus dengan penerapan aturan perdagangan seperti penutupan kode broker dan domisili.
“Untuk saat ini belum. Kita masih tunggu penerapan aturan baru perdagangan seperti penutupan kode broker dan domisili,” ujar Laksono, Senin (12/4).
Menurut Laksono kebijakan penurunan jumlah saham dalam satu lot ini dikaji kembali karena bursa bertujuan untuk memudahkan investor ritel, terutama generasi milenial yang saat ini semakin mendominasi pasar saham.
Adapun saat ini aturan yang berlaku yaitu milenial bisa berinvestasi di pasar modal dengan membeli saham minimal 1 lot berisi 100 lembar. Namun meski minimal hanya 1 lot, tetapi lembar saham yang berjumlah 100 ini membuat harga akhir pembelian saham menjadi kurang terjangkau.
Sebagai contoh, harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) siang ini, Senin (12/4) berada di level Rp 30.625 per lembar. Untuk bisa berinvestasi di BBCA investor harus membeli minimal 1 lot saham yang berisi 100 lembar. Artinya investor harus menyiapkan dana Rp 3.062.500 hanya untuk memiliki 1 lot saham BBCA. Bagi sebagian investor ritel, nilai tersebut cukup besar dan butuh modal.
Untuk itulah pihak BEI berencana mengkaji ulang menurunkan jumlah lembar dalam satu lot. Sehingga nantinya investor ritel tidak keberatan untuk berinvestasi di saham-saham tertentu.
“Alasan penerapan (penurunan jumlah saham dalam satu lot) supaya pasar modal ekuitas semakin mudah diakses untuk semua kalangan,” ujar Laksono.
Harapannya akan semakin banyak investor khususnya milenial yang akan masuk ke pasar modal karena pembelian saham lebih mudah dan terjangkau. Adapun berdasarkan data OJK, hingga akhir Februari 2021, jumlah single investor identification (SID) investor di pasar modal mencapai 4,51 juta, naik dari 2,48 juta per 2019. Dari total tersebut, 99 persen di antaranya merupakan investor ritel.
Dari total jumlah SID investor tersebut, 57 persen berusia di bawah 30 tahun, lalu diikuti usia di rentang 31-40 tahun sebesar 22 persen. Dari tingkat pendidikannya, 50,42 persen hanya setingkat SMA, sedangkan tingkat sarjana sebanyak 37,92 persen dari total investor.
Seperti diketahui wacana untuk menurunkan jumlah saham dalam satu lot sudah mengemuka sejak 2018. Wacana ini sempat batal pada 2019. Namun, BEI belakangan menghembuskannya kembali. Sebelumnya BEI sudah pernah melakukan kebijakan serupa pada 2014 lalu dengan menurukan jumlah saham dalam satu lot yang sebelumnya sebanyak 500 lembar menjadi 100 lembar.




Discussion about this post