Ini Kata Importir Jepang Agar RI Bisa Ekspor Sayur dan Buah

KeuanganNegara.id -Pasar Jepang bagi produk hortikultura terbuka lebar bagi Indonesia. Hanya saja, Jepang memiliki syarat yang cukup ketat untuk bisa menerima produk hortikultura dari mitra yang baru.

Pimpinan Yogi Tsusho Co Ltd, Hiroo Tokoro mengatakan, Jepang telah lama bergantung kepada impor dari China untuk produk hortikultura. Namun, lantara adanya kekhawatiran akan harga dan kualitas, beberapa tahun terakhir tren “bebas dari China” semakin berkembang.

Ia mengatakan, dengan kata lain perusahaan importir di Jepang mencari alternatif pengganti produk China. “Selama ini Jepang bergantung ke China, tapi sudah mulai muncul klien kami yang meminta produk Indonesia,” kata Tokoro dalam Japan-Indonesia Market Access Workshop yang digelar secara virtual.

Baca juga:   Pemerintah Minta PLN Selesaikan Aduan Tagihan Membengkak

Ia menjelaskan, soal harga dan kualitas, Indonesia harus lebih bersaing dari China. Hal itu juga tak perlu diperdebatkan karena menjadi kewajiban para kompetitor.

Namun, ada strategi yang dibutuhkan untuk bisa menghindari kompetisi itu. Ia menuturkan, kompetisi itu dapat dihindari jika waktu panen komoditas hortikultura dapat berbeda dengan China yang dalam setahun ada empat musim.

Baca juga:   Pemerintah Siapkan DAK Fisik dan Bantuan Operasional Kesehatan untuk Antisipasi COVID-19

Negara dengan iklim sub-tropis, kata Tokoro, seharusnya Indonesia dapat menyediakan pasokan yang stabil sepajang tahun. “Karena banyaknya permintaan akan sayuran dan buah-buahan yang akrab bagi orang Jepang, baik sekali jika kita memulai masuk dari celah ini,” ujar Tokoro.

Meski demikian, ia menyampaikan, perusahaan Jepang cenderung berhati-hati terhadap sebuah produk baru. Dibutukan waktu lama antara setengah hingga satu tahun untuk memeriksa kualitas dan saling konfirmasi. Tokoro mengatakan, spesifikasi produk dan profil perusahaan saja tidak cukup untuk bisa menerima produk baru.

Baca juga:   Investor Jepang Berencana Tunda Jadwal Pembangunan Pelabuhan Patimban

Banyak perusahaan Jepang yang mulanya mengunjungi lokasi pabrik sebelum bertransaksi. “Mereka tidak akan langsung menyetujui hanya karena eksportir punya berbagai sertifikasi seperti ISO, HACCP, dan sebagainya. Syarat kualitas Jepang sering kali lebih ketat daripada negara lain. Jadi tidak perlu dijawab dengan keyakinan, tapi harus diurai,” kata Tokoro menjelaskan.(msn)

Keuangan Negara Indonesia

Keuangan Negara Indonesia

Keuangan Negara provides the latest economic, business, e-commerce, start-up, stock market, financial and all entrepeneur news from around Indonesia.

Next Post

Discussion about this post

Stay Connected

Recent News

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Follow & Support Us!!

Keuangan Negara menyajikan berita terbaru keuangan negara, ekonomi, bisnis, e-commerce, start-up, finansial, dan entrepreneur yang bersumber dari berbagai situs dan narasumber resmi